Kawasan wisata Tanjung Lesung yang terletak di Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten yang telah ditetapkan sebagai kawasan strategis akan terus dikembangkan.
"Kita akan terus mengembangkan kawasan Tanjung Lesung itu di antaranya dengan menggandeng pihak investor agar wilayah objek wisata tersebut bisa lebih maju," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pandeglang Aah Wahid Maulani di Pandeglang, Senin.
Pengembangan kawasan Tanjung Lesung, kata dia, merupakan bagian dari provinsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang yang telah menjadikan sektor pariwisata sebagai andalan di samping pertanian secara luas.
Ia juga menjelaskan, adanya rencana pembangunan Bandara Banten Selatan di Kecamatan Panimbang dan pembangunan jalan tol dari Balaraja-Tangerang hingga ke Tanjung Lesung akan mendukung pengembangan kawasan tesebut.
"Setelah Bandara dan jalan tol itu dibangun maka akses transportasi ke Tanjung Lesung akan semakin lancar, maka akan sangat mendukung pengembangan daerah wisata itu," ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang Cecep Djuanda secara terpisah menjelaskan, ada tiga alasan mengapa objek wisata Tanjung Lesung dijadikan sebagai kawasan strategis yakni karena wilayah itu merupakan kawasan nasional, masuk dalam tujuh kawasan pengembangan dan memenuhi syarat untuk pengembangan wisata sesuai dengan UU No.20 tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Sedangkan tujuh daerah yang menjadi fokus pengembangan periwisata, kata dia, yakni Carita, Pulau Umang, Labuan, Bama, Cikeudal dan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) serta Tanjung Lesung.
Pemerintah Kabupaten Pandeglang, telah mengeluarkan Perda No.2 tahun 2002 tentang Pariwisata Tanjung Lesung dengan luas arela peruntukan ribuan hektare wilayah tersebut merupakan kawasan potensial untuk dibangun dan dikembangkan.
Pengembangan kawasan tersebut, kata dia, akan dorong melalui kerja sama dengan investor, namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Menurut dia, saat ini ada beberapa investor yang mengelola kawasan wisata Tanjung Lesung yakni PT Banten West Java dengan luas areal 1.500 hekatere (Ha), PT Pradita Prima (200 Ha), PT Rumpun Bambu (30 Ha), PT Andalan Bhakti (100 Ha), PT Bina Pusaka (150 Ha), PT Catur Karyasa (50 Ha), PT Kalapa Koneng (50 Ha) dan PT Syafiera Amalia (270 Ha).
"Seluruh investor itu telah kita undang untuk membicarakan pengembangan kawasan Tanjung Lesung sebagai kawasan strategis itu," ujarnya.
Pengembangan Tanjung Lesung sebagai kawasan strategis melibatkan lintas sektoral di antaranya Dinas Kebersihan dan Tata Ruang dan instansi lainnya. (Sumber: Antara)
Sumber :
http://m.kompas.com/news/read/data/2010.04.19.15032945
19 April 2010
Selasa, 20 Juli 2010
Lokasi Bandara Di Panimbang Sudah Sesuai KKOP
Lokasi pembangunan Bandara Banten Selatan di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, telah sesuai dengan aturan Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP).
"Lokasinya telah ditetapkan dan telah sesuai dengan aturan KKOP, jadi sepertinya sulit untuk dipindahkan," kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten Toni Mukson di Pandeglang, Rabu.
Menurut politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, kalau lokasi pembangunan Bandara itu dipindahkan maka butuh waktu lagi untuk melakukan pengkajian. Penetapan lokasi Bandara tidak bisa ditentukan begitu saja.
"Karena lokasinya telah ditetapkan dan telah sesuai dengan KKOP maka kita dukung saja agar realisasi pembangunannya bisa segera dilaksanakan," kata anggota DPRD Provinsi Banten dari daerah pemilihan Kabupaten Pandeglang itu.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Pandeglang Maman Lukman sebelumnya mengharapkan agar lokasi pembangunan Bandara tidak berada pada areal persawahan karena bisa mengurangi lahan pertanian di daerah itu.
"Lokasi pembangunan Bandara itu sudah final pada satu desa di Kecamatan Panimbang, dan lokasi itu sebagian besar merupakan areal persawahan," katanya.
Maman berharap agar pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten bisa kembali melakukan evaluasi terhadap lokasi pembangunan Bandara tersebut, dan jika memungkinkan dapat dipindahkan.
"Kalau bisa ditinjau ulang, kita mengharapkan agar lokasi Bandara itu pada areal yang tidak produktif, namun kalau lokasi itu memang sudah tidak bisa berubah kami tetap mendukung," kata politisi dari Partai Keadilan Sejahtera itu.
Pembangunan Bandara perintis itu, merupakan program dari pemerintah pusat guna mendukung kelancaran transportasi. Tujuannya untuk memudahkan penanganan ketika terjadi bencana di wilayah Pandeglang bagian selatan itu.
Sembilan kecamatan di wilayah Pandeglang bagian selatan di antaranya Panimbang merupakan daerah "langganan" banjir bandang. Setiap turun hujan deras di wilayah itu dipastikan terjadi banjir cukup tinggi dan merendam rumah penduduk, areal pertanian serta perkebunan.
(ras/RAS/ant)
Sumber :
http://vibizdaily.com/detail/nasional/2010/05/05/lokasi_bandara_di_panimbang_sudah_sesuai_kkop
5 Mei 2010
"Lokasinya telah ditetapkan dan telah sesuai dengan aturan KKOP, jadi sepertinya sulit untuk dipindahkan," kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten Toni Mukson di Pandeglang, Rabu.
Menurut politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, kalau lokasi pembangunan Bandara itu dipindahkan maka butuh waktu lagi untuk melakukan pengkajian. Penetapan lokasi Bandara tidak bisa ditentukan begitu saja.
"Karena lokasinya telah ditetapkan dan telah sesuai dengan KKOP maka kita dukung saja agar realisasi pembangunannya bisa segera dilaksanakan," kata anggota DPRD Provinsi Banten dari daerah pemilihan Kabupaten Pandeglang itu.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Pandeglang Maman Lukman sebelumnya mengharapkan agar lokasi pembangunan Bandara tidak berada pada areal persawahan karena bisa mengurangi lahan pertanian di daerah itu.
"Lokasi pembangunan Bandara itu sudah final pada satu desa di Kecamatan Panimbang, dan lokasi itu sebagian besar merupakan areal persawahan," katanya.
Maman berharap agar pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten bisa kembali melakukan evaluasi terhadap lokasi pembangunan Bandara tersebut, dan jika memungkinkan dapat dipindahkan.
"Kalau bisa ditinjau ulang, kita mengharapkan agar lokasi Bandara itu pada areal yang tidak produktif, namun kalau lokasi itu memang sudah tidak bisa berubah kami tetap mendukung," kata politisi dari Partai Keadilan Sejahtera itu.
Pembangunan Bandara perintis itu, merupakan program dari pemerintah pusat guna mendukung kelancaran transportasi. Tujuannya untuk memudahkan penanganan ketika terjadi bencana di wilayah Pandeglang bagian selatan itu.
Sembilan kecamatan di wilayah Pandeglang bagian selatan di antaranya Panimbang merupakan daerah "langganan" banjir bandang. Setiap turun hujan deras di wilayah itu dipastikan terjadi banjir cukup tinggi dan merendam rumah penduduk, areal pertanian serta perkebunan.
(ras/RAS/ant)
Sumber :
http://vibizdaily.com/detail/nasional/2010/05/05/lokasi_bandara_di_panimbang_sudah_sesuai_kkop
5 Mei 2010
Panimbang, Sentra Budi Daya Kerang Hijau Masa Depan

Pandeglang-Sentra budi daya kerang hijau di Provinsi Banten terletak di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Jika selama ini produksi kerang hijau berasal dari DKI Jakarta, maka untuk masa depan pusat pembudidayaan kerang hijau akan direlokasi ke daerah ini.
Kepastiannya belum jelas, namun persiapan ke arah itu telah dilakukan oleh provinsi tersebut.
Menurut Ubaidillah AS, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, pembicaraan antara gubernur Banten dan DKI Jakarta sudah dilakukan namun baru secara informal. Alasan mengapa sentra pembudidayaan kerang hijau di Teluk Jakarta akan digeser ke Banten, sebab air laut di teluk tersebut sudah tercemar. Sedangkan di Panimbang, menurut penelitian DKP Banten, perairannya cocok dan belum tercemar sama sekali.
“Kami sudah melakukan ujicoba di sana dan hasilnya cukup memuaskan. Ketika itu beberapa BUMN kita undang dan tertarik untuk memberi bantuan bagi pengembangan budidaya kerang hijau di Banten,” ujar Ubaidillah di sela acara kunjungan wartawan Jakarta, pekan lalu di Serang.
Diuraikannya, PT Telkom dan Bank Jabar telah membuktikan kepedulian dengan memberi permodalan bagi nelayan yang tertarik. Budidaya kerang hijau, me-nurut Ubaidillah, baru kali ini dilakukan di Banten. Walau demikian, ujicoba yang belum lama dilakukan ternyata sukses sehingga bantuan modal datang dengan sen-dirinya. Dari PT Telkom, pihaknya mendapat pinjaman sebesar Rp 100 juta sebagai kredit UKM dengan bunga 3 persen per tahun yang langsung disalurkan kepada masyarakat.
Saat ini menurut TB Sudrajat, staf DKP di Pandeglang, di perairan Panimbang terdapat 173 bagan (tempat budidaya kerang hijau), 30 bagan sedang dalam persiapan. Saat ini masyarakat sedang menunggu panen raya kerang hijau yang jatuh sekitar Oktober – November. Saat itu usia kerang hijau sudah mencapai 6 bulan dan siap panen.
“Bagi Banten, saat itu peristiwa penting karena panen besar pertama yang sudah bisa dihitung berapa banyak perputaran uang yang terjadi di sini,” ujarnya.
Wasad (50), pembudidaya kerang hijau, adalah salah seorang yang bakal menjadi jutawan baru. Sebab pemilik 50 bagan itu sudah bisa menghitung berapa penghasilannya nanti. Diuraikannya, untuk membangun bagan diperlukan biaya Rp 6 juta. Modal ini lumayan berat jika dipikul sendiri oleh masyarakat. Oleh karenanya, sebagai ketua kelompok, pihaknya merasa bersyukur mendapat bantuan dari berbagai pihak.
Pinjaman tersebut setiap sesudah panen (6 bulansekali) selama 3 tahun. Wasad yakin, panen mendatang akan memberi hasil memuaskan. Bukan cuma dirinya yang mencicipi, tapi semua anggota kelompoknya.
Dari satu bagan dalam 6 bulan bisa menghasilkan 15 ton kerang hijau dengan harga jual per kilogram Rp 600 - Rp 1000. Maka setiap anggota yang memiliki minimal 1 bagan bakal menerima Rp 9 juta – Rp 15 juta.
“Biaya operasional dan perawatan bagan tidak terlalu besar sehingga keuntungan yang lumayan masih bisa didapat,” jelas Wasad.
Perkembangan budidaya kerang hijau di kawasan ini termasuk cepat pertumbuhannya. Hanya dalam dua tahun jumlahnya hampir mencapai 200 bagan. Diakuinya, percepatan ini dipicu juga oleh pengalaman Wasad sebelumnya yang pernah menjadi pembudidaya kerang hijau pada tahun 2003 di Kamal, Tangerang. Ditambah lagi dengan peran Dinas Kelautan dan Perikanan setempat yang membantu memperlicin kedatangan bantuan dana dari berbagai pihak.
Di Panimbang, menurut Ubaidillah, di kawasan ini mampu menampung sampai 5.000 bagan. Kerang hijau adalah salah satu masa depan Banten yang menjanjikan. Rencana relokasi petani kerang hijau dari DKI Jakarta ke Banten, ditanggapi dengan hati-hati. Sebab jika itu terlaksana, pihaknya hanya mengizinkan aliran modal saja, sementara yang mengerjakan masyarakat lokal. Atau, pihaknya mengizinkan dengan syarat komposisi antara masyarakat lokal dengan pendatang adalah 80:20.
Ditambahkannya, kerang hijau dari Banten akan diekspor ke mancanegara. Ubaidillah yakin negara pengimpor akan meloloskan karena produksi kerang hijau dari wilayahnya bebas pencemaran. Ini berbeda dengan kerang yang berasal dari Teluk Jakarta.
“Kami tidak takut bersaing dengan daerah lain, sebab negara pembeli sebelumnya sudah survei. Nanti di dalam setiap kemasan dicantumkan label bebas pencemaran,” tuturnya bangga.n
Sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0820/ukm1.html
Sumber Gambar:
http://indonetwork.web.id/andro_marine/group+47315/kerang-hidup.htm
Ketika Ombak Mencumbu Tanjung Lesung - Panimbang

Gulungan-gulungan ombak berlomba menuju karang pantai Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Jumat (11/6/2010). Hembusan angin membawa mereka satu per satu memecah karang, meninggalkan buih putih di hamparan pasir. Bagai ditolak karang, gulungan ombak kembali ke tengah laut biru Tanjung Lesung.
Airnya bersih, pantainya tipikalnya pasir yang bercampur karang.
Pantai Tanjung Lesung terkenal dengan lautnya yang bersih serta pasir putihnya yang halus. "Airnya bersih, pantainya tipikalnya pasir yang bercampur karang," ujar manajer Beach Club, Tanjung Lesung, Benny Roza yang ditemui di pantai Tanjung Lesung, Jumat. Pecahan batu karang kecil-kecil tampak menghiasi pasir pantai namun tidak menyakitkan jika terinjak pengunjung. "Pantainya nggak drop ya, termasuk landai, dan relatif aman," kata Benny.
Pengunjung dapat berjalan menyusuri pantai menikmati semilir angin dan pemandangan pantai yang indah. Suasana pantai pun tampak sepi dan nyaman untuk beristirahat. Tersedia pula penginapan di tepi pantai yang menyediakan beragam fasilitas bagi pengunjung.
Pusat rekreasi Beach Club Tanjung Lesung yang terletak di Desa Tanjung Jaya, Tanjung Lesung, Pandeglang Banten tersebut baru dibuka pada 1998. Sejak itu, menurut Benny, banyak wisatawan yang berkunjung untuk menikmati permainan air dan taman laut Tanjung Lesung yang indah. "Kaya orang ke resort, keunikannya apa, nyoba snorkeling karena sport-nya luas buat snorkeling. Kebetulan di sini, taman lautnya bagus, ikannya bagus," kata Benny.
View Larger Map
Desa Tanjung Jaya, Tanjung Lesung cukup jauh dari Ibu Kota. Untuk mencapainya dari Jakarta diperlukan waktu sekitar empat jam.Pengunjung dari Jakarta harus melalui Jalan Raya Serang dan Labuan yang berliku dan sempit. Deretan sawah hijau menghiasi perjalanan menuju Tanjung Lesung. Meskipun memakan waktu lama, pengunjung akan menikmati perjalanan menuju Tanjung Lesung tersebut.
Sumber :
http://oase.kompas.com/read/2010/06/11/10185446/Ketika.Ombak.Mencumbu.Tanjung.Lesung
11 Juni 2010
Eksotisme Ujung Kulon - Sumur

Anda ingin merasakan sensasi suasana hutan alam dengan beragam tumbuhan dan satwa liar di dalamnya? Atau hendak menikmati keindahan perairan dengan debur ombak dan panorama pantai yang menawan? Datang saja ke Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Mencapai lokasi ini tidak sulit. Wisatawan Jakarta dapat memilih rute jalan darat Jakarta-Serang-Labuan sejauh 120 kilometer dengan lama tempuh 4-5 jam. Bisa juga rute Jakarta-Cilegon-Labuan sejauh 140 kilometer dengan lama tempuh 5-6 jam. Namun, jika tak ingin lelah dan akan menggunakan kendaraan umum, itu juga tak masalah karena dua rute itu dilayani angkutan umum bus dan minibus.
Apabila ingin meneruskan perjalanan ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan naik kapal cepat berkapasitas sekitar delapan orang, pengunjung dapat berangkat dari Carita. Tarif sewa kapal cepat ini Rp 3,5 juta per hari. Pilihan lain, perahu motor berkecepatan sedang dengan kapasitas angkut sekitar 25 orang yang berangkat dari Sumur atau Tamanjaya. Tarif sewanya lebih murah, yakni Rp 1,8 juta per kapal per hari.
Pilihan transportasi sudah diputuskan, sekarang tinggal mempersiapkan diri untuk menikmati taman nasional tersebut. Para pelancong bisa menikmati keindahan laut dan pulau-pulau kecil dengan perairan di sekelilingnya.
Pengunjung yang gemar berselancar dapat memuaskan tingginya gelombang ombak di Teluk Pulau Panaitan. Keindahan terumbu karang dapat dinikmati di taman laut Pulau Peucang dan Kepulauan Handeuleum.
Pengunjung yang berminat menyelam dapat melakukannya di perairan sekitar Pulau Peucang dan pantai utara serta timur Pulau Panaitan. Atau ada yang ingin bersantai dengan naik kano? Kegiatan mendayung perahu langsing ini dapat dilakukan di sepanjang Sungai Cigenter, Sungai Pamanggangan, dan Cikabeumbeum.
Sebagai catatan, tidak di setiap waktu pengunjung bisa memasuki hutan Semenanjung Ujung Kulon karena kawasan ini merupakan habitat satwa langka badak bercula satu. Pastikan agar jadwal kunjungan tidak berbarengan dengan masa kawin badak. Jadwal dan rute kunjungan ini harus dikonfirmasikan dulu ke Balai Taman Nasional di Labuan. Selain itu, karena lokasi taman nasional dikelilingi perairan Selat Sunda dan Samudra Hindia, faktor cuaca harus benar-benar diperhatikan demi keselamatan. Jangan memaksakan jika cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Pesona hutan
Pemandangan di darat pun tidak kalah memesona. Bicara mengenai hutan, ada perbedaan antara hutan di Pulau Peucang dan di Semenanjung Ujung Kulon. ”Di Pulau Peucang dapat ditemui hutan primer, sedangkan di semenanjung ini adalah hutan sekunder,” kata Dodi Sumardi, pegawai Balai TNUK.
Hutan primer dicirikan dengan lantai hutan yang relatif bersih dari semak belukar karena tumbuhan rendah tidak mampu berfotosintesis. Sementara itu, hutan sekunder, lantai hutannya penuh dengan semak belukar. Hutan sekunder di Semenanjung Ujung Kulon adalah hasil suksesi alami pascameletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Beragam jenis pohon menghiasi rimba Ujung Kulon yang merupakan hutan hujan tropis dataran rendah ini.
Ketika memasuki hutan di Gardu Buruk—salah satu blok di taman nasional—terlihat pohon kiara pencekik (Ficus sp) yang diameter jalinan akarnya lebih dari sepuluh rangkulan orang dewasa. Sebutan kiara pencekik karena pohon itu awalnya menempel di batang pohon inang. Namun, lambat laun, sembari mengisap sari makanan dari tubuh pohon inang, akar-akar kiara itu terus menjalar ke bawah hingga dapat menyedot hara dari dalam tanah. Pohon inang pun tercekik hingga mati, sementara kiara terus menjulang tinggi. Gambaran persaingan untuk bertahan hidup di alam.
Aneka satwa liar pun kerap dijumpai di taman nasional. Seekor ular pucuk dengan kepala berbentuk segitiga, tanda jenis ular berbisa, kami jumpai pula ketika mengikuti rombongan tim identifikasi badak tahun 2010 masuk ke hutan Ujung Kulon pertengahan Juni.
Belum lagi burung-burung dari berbagai jenis. Diperkirakan, ada 250 jenis burung yang memiliki habitat di taman nasional sehingga lokasi ini menjadi tempat ideal untuk menyalurkan hobi mengamati burung. Jika berkunjung ke taman ini, jangan lupa bawa teropong.
Kegiatan lintas alam masuk keluar hutan merupakan paket wisata yang disukai beberapa kalangan. Wisata ini selain menuntut kesiapan fisik menembus hutan belukar, pengunjung pun harus sabar apabila bertemu satwa liar.
”Kegiatan tracking di alam liar banyak disukai pengunjung, terutama yang muda dan berjiwa petualang. Kalau wisatawan keluarga, kebanyakan lebih suka berwisata ke pulau-pulau di kawasan TNUK yang ada penginapannya,” kata Edi Bachtiar, pemandu.
Khusus di Pulau Handeuleum, kemungkinan besar pengunjung bertemu rusa dan monyet. Hal ini karena ada belasan rusa di pulau tersebut. Apabila beruntung, bisa bertemu rusa yang muncul dari balik pagar belukar tempat penginapan wisatawan. Rusa-rusa ini kerap mendekat dan menjulurkan kepalanya menyantap makanan yang diberikan para wisatawan.
Akan halnya dengan monyet, primata satu ini juga kerap terlihat di pepohonan, termasuk yang tumbuh di sekitar penginapan. ”Pada hari-hari tertentu, sering ada sekelompok monyet bermain ayunan di sulur-sulur pohon dan kemudian ramai-ramai menceburkan diri ke kubangan sekitar sungai,” kata Mustari, petugas di resor Handeuleum.
Sumber :
C Anto Saptowalyono
http://travel.kompas.com/read/2010/06/26/11103675/Eksotisme.Ujung.Kulon
26 Juni 2010
Taman Nasional Ujung Kulon - Sumur




Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.
Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820.
Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata)dan berbagai macam jenis anggrek.
Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain.
Jenis-jenis ikan yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok dan sumpit. Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di i daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.
Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.
Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.
Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional yaitu suku Banten yang terkenal dengan kesenian debusnya. Masyarakat tersebut pengikut agama Islam, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka.
Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Tamanjaya dan Cibiuk. Pintu masuk utama dengan fasilitas, pusat informasi, wisma tamu, dermaga, sumber air panas.
Pantai Kalejetan, Karang Ranjang, Cibandawoh. Fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal, pengamatan tumbuhan dan satwa.
Pulau Peucang. Pantai pasir putih, terumbu karang, perairan laut yang biru jernih yang sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, snorkeling dan tempat ideal bagi pengamatan satwa satwa rusa di habitat alamnya.
Karang Copong, Citerjun, Cidaon, Ciujungkulon, Cibunar, Tanjung Layar, dan Ciramea. Menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, padang pengembalaan satwa, air terjun dan tempat peneluran penyu.
Pulau Handeuleum, Cigenter, Cihandeuleum. Pengamatan satwa (banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak badak Jawa dan berbagai macam jenis burung), menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.
Pulau Panaitan, dan Gunung Raksa. Menyelam, berselancar, dan wisata budaya/ sejarah.
Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d September.
Cara pencapaian lokasi:
Jakarta - Serang (1 1/2 jam via jalan Tol), Serang - Pandeglang - Labuan (1 1/2 jam) atau Jakarta - Cilegon (2 jam via jalan Tol), Cilegon - Labuan (1 jam) atau Bogor - Rangkasbitung - Pandeglang - Labuan (4 jam).
Labuan - Sumur (2 jam), Sumur - Pulau Peucang (1 jam dengan kapal motor nelayan) atau Labuan - Pulau Peucang (4 jam dengan kapal motor nelayan).
Kantor : Jl. Perintis Kemerdekaan No. 51, Labuan, Pandeglang 42264
Telp. (0253) 801731; Fax. (0253) 804651
E-mail : btnuk@cilegon.wasantara.net.id
Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1980
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 284/ Kpts-II/92,
luas 122.956 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
Temperatur udara 25° - 30° C
Curah hujan Rata-rata 3.200 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 - 608meter dpl
Letak geografis 6°30’ - 6°52’ LS, 102°02’ - 105°37’ BT
Sumber :
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_ujungkulon.htm
Langganan:
Postingan (Atom)